Jumat, 24 Januari 2014

SULTAN HASANUDDIN



Sultan Hasanuddin lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631 dan meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juni 1670 pada umur 39 tahun, adalah Raja Gowa ke-16 dan pahlawan nasional Indonesia yang terlahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Setelah memeluk agama Islam, ia mendapat tambahan gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, hanya saja lebih dikenal dengan Sultan Hasanuddin saja. dia diangkat menjadi Sultan ke 6 Kerajaan Gowa dalam usia 24 tahun (tahun 1655).
Sementara itu belanda memberinya gelar de Haav van de Oesten alias Ayam Jantan dari Timur karena kegigihannya dan keberaniannya dalam melawan Kolonial belanda. Sultan Hasanuddin lahir di Makassar, merupakan putera kedua dari Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke-15. Sultan Hasanuddin memerintah Kerajaan Gowa, ketika Belanda yang diwakili Kompeni sedang berusaha menguasai perdagangan rempah-rempah. Gowa merupakan kerajaan besar di wilayah timur Indonesia yang menguasai jalur perdagangan. Pada tahun 1666, di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman, Kompeni berusaha menundukkan kerajaan-kerajaan kecil, tetapi belum berhasil menundukkan Gowa. Di lain pihak, setelah Sultan Hasanuddin naik takhta, ia berusaha menggabungkan kekuatan kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia bagian timur untuk melawan Kompeni.
Peperangan antara VOC dan Kerajaan Gowa (Sultan Hasanuddin) dimulai pada tahun 1660. Saat itu Belanda dibantu oleh Kerajaan Bone yang merupakan kerajaan taklukan dari Kerajaan Gowa. Pada peperangan tersebut, Panglima Bone, Tobala akhirnya tewas tetapi Aru Palaka berhasil meloloskan diri dan perang tersebut berakhir dengan perdamaian. Akan
tetapi, perjanjian dama tersebut tidak berlangsung lama karena Sultan Hasanuddin yang merasa dirugikan kemudian menyerang dan merompak dua kapal Belanda , yaitu de Walvis dan Leeuwin. Belanda pun marah besar.
Lalu Belanda mengirimkan armada perangnya yang besar yang dipimpin oleh Cornelis Speelman. Aru palaka, penguasa Kerajaan Bone juga ikut menyerang Kerajaan Gowa. Sultan Hasanuddin akhirnya terdesak dan akhirnya sepakat untuk menandatangani perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667. Pada tanggal 12 April 1668, Sultan Hasanuddin kembali melakukan serangan terhadap Belanda. Namun karena Belanda sudah kuat maka Benteng Sombaopu yang merupakan pertahanan terakhir Kerajaan Gowa berhasil dikuasai Belanda. Hingga akhir hidupnya, Sultan Hasanuddin tetap tidak mau bekerjasama dengan Belanda. Sultan Hasanuddin kemudian mengundurkan diri dari takhta kerajaan dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670. Untuk Menghormati jasa-jasanya, Pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya dengan SK Presiden Ri No 087/TK/1973.

http://kolom-biografi.blogspot.com/2011/08/biografi-sultan-hasanuddin-ayam-jantan.html

MAJAS PERBANDINGAN



Macam-macam Majas Perbandingan beserta Contohnya | Pada dasarnya,Majas terbagi atas 4 jenis, yaitu majas perbandingan, majas pertentangan, majas sindiran, dan majas penegasan. Tapi dalam prakteknya, majas yang paling sering digunakan adalah majas perbandingan. Karena itulah mbah tertarik untuk membahas khusus tentang Majas perbandingan. (sebelumnya, mbah pernah membahas tentang macam-macam majas, silahkan bisa dilihat Disini)

Majas Perbandingan
Majas perbandingan adalah Kata-kata berkias yang menyatakan perbandingan untuk meningkatkan kesan dan pengaruhnya terhadap pendengar atau pembaca. Adapun dalam pemanfaatanya. majas perbandingan dibagi menjadi 8, yaitu:

1. Asosiasi atau Perumpamaan
Majas asosiasi atau perumpamaan adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berbeda, tetapi sengaja dianggap sama. Majas ini ditandai oleh penggunaan kata bagai, bagaikan, seumpama, seperti, dan laksana.
Contoh :
a) Hatinya lebut bagaikan salju.
b) Rupanya cantik laksana bidadari kahyangan .

2. Metafora
Metafora adalah majas yang mengungkapkan ungkapan secara langsung berupa perbandingan analogis.
Contoh:
a) Buku adalah Jendela Dunia
b) Istriku adalah Belahan Jiwaku
c) Rumahku Surgaku.

3) Personifikasi
Personifikasi adalah majas yang membandingkan benda-benda tak bernyawa seolah-olah mempunyai sifat seperti manusia.
Contoh:
a) Api itu melalap rumah warga.
b) hembusan angin dengan lembut menyapaku.
c) Lahar merapi itu terus meronta ingin keluar.

4. Alegori
Alegori adalah Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.
Alegori: majas perbandingan yang bertautan satu dan yang lainnya dalam kesatuan yang utuh. Alegori biasanya berbentuk cerita yang penuh dengan simbol-simbol bermuatan moral.
Contoh:
Perjalanan hidup manusia seperti sungai yang mengalir menyusuri tebing-tebing, yang kadang-kadang sulit ditebak kedalamannya, yang rela menerima segala sampah, dan yang pada akhirnya berhenti ketika bertemu dengan laut.

5) Simbolik
Simbolik adalah majas yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan benda, binatang, atau tumbuhan sebagai simbol atau lambang.
Contoh:
a) Jangan sampai kita terjerat jebakan lintah darat itu
b) Dasar Lelaki hidung belang
c) Ia adalah kembang desa di kampung ini

6. Metonimia
Metonimia adalah majas yang menggunakan ciri atau lebel dari sebuah benda untuk menggantikan benda tersebut.Pengungkapan tersebut berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut.
Contoh:
a) Di kantongnya selalu terselib gudang garam. (maksudnya rokok gudang garam)
b) Setiap pagi Ayah selalu menghirup kapal api. (maksudnya kopi kapal api)
c) Ayah pulang dari luar negeri naik garuda (maksudnya pesawat)

7. Sinekdok
Sinekdok adalah majas yang menyebutkan bagian untuk menggantikan benda secara keseluruhan atau sebaliknya. Majas sinekdokhe terdiri atas dua bentuk berikut.
- Pars pro toto, yaitu menyebutkan sebagian untuk keseluruhan.
Contoh:
a) Hingga detik ini ia belum kelihatan batang hidungnya.
b) Per kepala mendapat Rp. 300.000.
- Totem pro parte, yaitu menyebutkan keseluruhan untuk sebagian.
Contoh:
a) Dalam pertandingan final bulu tangkis Rt.03 melawan Rt. 07.
b) Indonesia akan memilih idolanya malam nanti.

8. Simile
Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan penghubung, seperti layaknya, bagaikan, " umpama", "ibarat","bak", bagai".
Contoh:
Kau umpama air aku bagai minyaknya, bagaikan Qais dan Laila yang dimabuk cinta berkorban apa saja.
http://mbahkarno.blogspot.com/2012/08/macam-macam-majas-perbandingan-beserta.html

KELAS KATA



Tujuan agar kita memahami kelas kata dan macam-macam frasa serta dapat memanfaatkan kelas kata dalam membuat kalimat rincian sehingga kalimat tetap efektif.


PENGERTIAN
Kata merupakan unsur utama dalam membentuk kalimat.Kata juga dapat dibentuk melalui proses morfologi, yaitu afiksasi (pengimbuhan), reduplikasi ( pengulangan), dan komposisi (Penggabungan )Dalam kalimat, kata memiliki kedudukan / jabatan seperti subjek, predikat, objek, dan keterangan

KELAS KATA TERBAGI MENJADI 5 KELOMPOK:

1. Kata kerja ( verba )
2. Kata sifat ( adjektiva )
3. Kata keterangan ( adverbia )
4. Kata benda (nomina),kata ganti(pronomina)
        kata bilangan (numeralia).
5. Kelompok kata tugas ialah :
         a. Kata Sandang  ( artikel )
         b. Kata Depan ( preposisi )
         c. Kata Hubung ( konjungsi )
         d. Partikel
         e. Kata Seru ( interjeksi )


1.      KATA KERJA

Kata kerja (verba) adalah kata yang menyatakan perbuatan / tindakan, proses, dan keadaan yang bukan merupakan sifat.

Ciri-ciri kata kerja (verba)

A.    verba berfungsi sebagai predikat dalam kalimat.
B.      Dapat diberi aspek waktu,seperti akan, sedang dan  telah.
C.     Dapat diingkari dengan kata tidak  
D.    Dapat diikuti oleh gabungan kata dengan + KB/KS
 contoh: Pergi dengan adik, menulis dengan cepat   
2.      KATA SIFAT
Kata sifat / adjektiva adalah kata yang menerangkan sifat, keadaan watak, dan tabiat orang/binatang/benda

Fungsi adjektiva:
Kata sifat umumnya berfungsi sebagai predikat , objek, dan penjelas subjek


3.      KATA KETERANGAN
Kata keterangan / adverbia adalah kata yang memberi keterangan pada verba, adjektiva,nomina predikatif atau kalimat

Macam-macam adverbia :
a)      Adverbia dasar bebas, misalnya : alangkah, agak,  amat, niat, niscaya, tidak, paling, pernah, pula, saja,  saling.
b)       adverbia turunan terbagi atas :

·         adverbia reduplikasi misalnya : agak-agak, lagi-lagi  lebih-lebih, paling-paling.
·          Adverbia gabungan misalnya : belum boleh, belum pernah, atau tidak mungkin.
·          Adverbia yang berasal dari berbagai kelas misalnya : terlampau, agaknya, harusnya, sebaiknya, sebenarnya,  secepat-cepatnya. 
4.      KATA BENDA, KATA GANTI, KATA BILANGAN

KATA BENDA (NOMINA)
Kata benda/nomina adalah kata yang mengacu kepada sesuatu benda (konkret maupun abstrak)

Ciri-ciri kata benda:
a)      Berfungsi sebagai subjek, objek, pelengkap, dan   keterangan
b)      Dapat diingkari dengan kata bukan.contoh: bukan gula, bukan rumah, bukan mimpi, bukan  pengetahuan
c)      Dapat diikuti dengan gabungan kata yang + KS (kata  sifat) atau yang sangat + KS. contoh : buku yang mahal, pengetahuan yang sangat penting

KATA GANTI
Kata ganti/pronomina adalah kata yang dipakai untuk   Mengacu pada nomina lain. Pronomina berfungsi untuk menggantikan kata benda atau nomina.

Macam-macam pronomina.
   
 (1) pronomina persona .
 (2) pronomina penunjuk .
 (3) pronomina penaya.

 KATA BILANGAN
Kata bilangan / numeralia adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyak orang, binatang, dan benda

Macam-macam numeralia :
    a. Numeralia utama (kardinal) terdiri atas :
·         Bilangan penuh misalnya : satu, dua, tiga, puluh,    ribu, juta.
·         Bilangan pecahan misalnya : sepertiga, duapertiga,   lima perenam.
·         Bilangan gugus misalnya :  lusin, gros,  kodi, atau ton.

KATA TUGAS
Kata tugas terdiri atas :

a)      Kata Sandang ( artikel)
Kata sandang / artikel adalah kata yang mendampingi kata  benda / yang membatasi makna jumlah orang / benda.

Macam-macam artikel :

1.      Artikula/artikel bermakna tunggal, misalnya: sang guru, sang suami, sang juara.
2.       Artikula/ artikel bermakna jamak, misalnya :para petani, para guru, para ilmuwan.
3.      Artikula/artikel bermakna netral, misalnya: si hitam manis, si dia, si terhukum.
4.       Artikula/artikel khusus, misalnya : Sri Baginda, Sri Ratu, Sri Paus (gelar kehormatan), Hang Tuah, dan Dang Halimah  (panggilan pria dan wanita dalam sastra lama ).
http://rendyandriansaputra.blogspot.com/2012/04/pengertian-tentang-kelas-kata-beserta.html